| | |

Hari Yang Indah

[Di pertengahan minggu ini, gue lagi beres-beres lemari buku di kamar. Pas lagi sibuk ngasih stempel diri (kentara narsis & posesif), gue nemuin buku Kumpulan Cerpen Kelas 1-A SMU Islam Al-Azhar 1 (1996/1997). Wahaha.. kocak nih, ada cerpen yang gue bikin 13 tahun yang lalu pas gue masih duduk di bangku SMU, masih kelas 1 pula. Enjoy!]

Hari Yang Indah

Bel sudah berdentang tujuh kali, Pak Sido tampak santai memukulkan benda besi bulat lonjong yang kekuning-kuningan itu ke lonceng di depan kantin sekolah. Dia menganggap lonceng itu sudah seperti barang kesayangannya sendiri. Tiap pagi dia tak lupa membunyikan lonceng, begitulah ia menyebut benda bulat berongga dari kuningan yang tergantung di depan pintu kantin itu.

Namun bukan itu yang membuat Pak Said tersenyum-senyum, beliau adalah Guru Pendidikan Moral Pancasila, begitulah dulu ia dikenal. Sekarang ia dikenal sebagai Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Ia sudah terkenal dengan sebutan itu sejak dua tahun yang lalu, saat pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan, atau bisa disebut juga menggalakkan, wajib belajar sembilan tahun.

Lima belas menit berlalu dan Pak Said belum beranjak juga dari tempat duduknya di dekat pintu gerbang sekolah. Bangku itu memang sepi sekarang, tapi siang nanti tentu yang duduk di bangku itu bakal berjubel. Maklumlah, bangku itu memang disediakan bagi mereka yang menjemput anak-anak maupun “Tuan Muda” mereka masing-masing.

Pak Said baru beranjak setelah ada suara ramah menegur dari belakang, “Pak, Pak Said, kok masih di sini saja, Pak? Setengah jam lagi Bapak nanti kan mengajar di kelas 2 C. Apa tidak ada baiknya kalau Bapak masuk ke ruang guru dan menyiapkan segala sesuatunya. Biar nanti nggak terburu-buru, ya kan Pak?” Ternyata Ibu Kepala Sekolah yang menegur. Pak Said menjawab dengan sedikit tergagap, “Ba…, baik Bu, saya akan segera masuk.” Mendengar jawaban Pak Said, Bu Inah tersenyum seraya meninggalkan Pak Said, tetapi sebelum ia membalikkan badannya ia berkata dengan ramah pula, “Kalau begitu, saya duluan ya Pak?” Pak Said tersenyum dan membalas, “Baik, silakan Bu.”

Setelah Bu Inah terlihat membelok ke ujung lorong, Pak Said buru-buru menengok ke kelas 1 B lewat jendela belakang kelas itu. Tampak olehnya Bu Sari sedang mengajar di kelas itu, rupanya sedang menerangkan kepada anak-anak, bagaimana cara membuat cerpen yang baik. Pak Said melihat ke sekeliling kelas seraya bergumam sendiri, “Endang masuk, Uwi masuk, Yeyen masuk, Nino masuk juga. Hmm… pasti si Alie tidak masuk sekarang.”

Melihat tidak adanya batang hidung Alie, Pak Said bergegas meninggalkan kelas 1 B dan menuju ke ruang guru. Begitulah kebiasaan Pak Said, hampir setiap hari beliau melihat keadaan kelasnya. Sudah tiga tahun kelas itu dipimpinnya, maka tidak heran jika kelas itu menjadi satu kesatuan dengan dirinya dan menjadi tanggung jawabnya pula.

Bel berdentang lima kali, tanda pergantian pelajaran. Tapi Bu Sari tidak beranjak dari kelas 1 B karena memang ia mengajar selama dua jam pelajaran. Dan sudah jadi kebiasaan Bu Sari untuk mengabsen murid-murid pada jam pelajaran kedua. “Akim, Eppe, Lembi, …,” masing-masing menunjuk tangan seraya menjawab, “Hadir, Bu!”

Saat Bu Sari memanggil Alie, dari arah pojok kiri terangkat jari dengan malu-malu. Pada saat itulah meledak tawa kelas 1 B karena model rambut baru Alie yang kocak. Mungkin karena itulah Pak Said tidak mengenali Alie sehingga mengira Alie tidak masuk sekolah.

Teman-temannya menggoda, “Wah, jangan-jangan Popon juga ikut-ikutan model rambut baru. Ha.. ha.. ha..” Memang hubungan mereka berdua sudah di luar kepala anak-anak SMP Negeri 82. Tapi sebenarnya di antara mereka tidak ada hubungan khusus seperti pacaran atau berkeluarga. Mereka hanyalah sahabat dekat sejak kecil, namun memang sejak tiga bulan yang lalu isu itu sudah merebak di seantero sekolah. Tapi bagi mereka berdua, isu itu sebenarnya malah semakin memperjelas keyakinan mereka berdua akan perasaan di dalam hatinya masing-masing.

Sewaktu bel berdentang tujuh kali, jam di dinding menunjukkan pukul 09.15, maka berhamburanlah dari berbagai kelas batalyon-batalyon yang bersiap menyerbu kantin sekolah. Kantin itu demikian besar sehingga sekalipun diserbu berkali-kali juga tidak akan pernah roboh. Meskipun demikian, setiap harinya serbuan terhadap kantin itu tidak pernah berhenti.

Dari arah kelas 1 B keluar seorang anak berambut botak, yang dipanggil Alie oleh teman-temannya, ke arah kelas 1 A di seberang lorong. Di pintu kelas 1 A sudah menunggu anak perempuan dan melemparkan senyumnya kepada Alie.

Alie menyapa, “Halo Popon, sudah menunggu lama ya? Sorry deh! Tugas cerpen dari Bu Sari banyak banget jadinya gue telat keluar, sorry ya?”

“Nggak apa-apa kok, tugas dari Bu Ida juga banyak, tadi gue ada tes lisan sejarah sampe gagap-gagap. Pokoknya lucu deh!” balas Popon sambil tertawa kecil mengingat pengalamannya sewaktu di kelas tadi. “Kalau begitu, kita langsung aja ya?” tanya Alie. Popon menjawab dengan senangnya, “Oke, yuk!”

Dan dari kejauhan terlihat mereka berdua berjalan menuju halaman belakang sekolah yang sepi. Sementara hiruk-pikuk di kantin sekolah tetap terdengar sampai ke pintu gerbang.

Oleh: Yoga Prakasa

[Kentara yah ga cocok nulis cerita fiksi… eheuheuheu…

Udah narasinya banyak deskriptifnya, tokoh banyak yang ngambil dari kejadian nyata, alurnya juga biasa dan ngga ada konklusi. Binun euy…

Pas nyalin aja juga pake ketawa cekikian. Coba dianalisa, karakter gue ada ga di cerita itu?]

Leave a Reply

Your email address will not be published.