|

Single vs. Married – Part 3

[Okay, how about seeing it from the other camp. Why do people marry? And what’s in it for them? This article, written as a short guide to marriage, is meant for the guy, the husband in the household.

This guide, also written in Bahasa Indonesia, was forwarded by a colleague of mine, Bayu, on 6 November 2006. I often refer to him as cartoony, but I guess there’s a reason for his behavior. This article confirms what he had been trying to explain to me.]

MARRIAGE GUIDE

CHAPTER I – Having a Marriage

Dua sisi

Generasi ayah kita, banyak sekali di mana mereka membanting tulang bekerja dengan istrinya menjadi ibu rumah tangga yang baik. Tidak ada yang salah dengan itu. Mereka semua membesarkan kita menjadi kita sekarang. Ada dua sisi yang jelas dari perkawinan modern:

1. Saya melihat bahwa wanita itu butuh juga kebanggaan terhadap dirinya ‘Saya bekerja, saya juga mencari nafkah’.

Di sini peran mereka juga lebih berat karena ganda. Siang mereka bekerja meski gajinya belum tentu sebesar kita (terkadang lebih), celakanya bagi istri yg suaminya ‘dablek’, mereka masih dipaksa melayani suamilah atau mengurusi anaklah. Di sinilah yang saya lihat bagus untuk diubah.

2. Dengan tingkat inflasi sekarang, wah susah juga jika kita hanya mengandalkan suami untuk bekerja, maka sisi pertama tadi, berhubungan dengan sisi ini.

Dari keduanya, lahir pemikiran dari saya, bahwa alangkah baiknya jika zaman sekarang suami lebih sensitif terhadap perasaan istri. Alangkah baiknya jika sang suami, juga berperan sebagai sedikit ibu karena istrinya telah berperan sebagai suami juga dengan ikut mencari nafkah. Ga salah jika kita sepulang kerja stop by di pasar buah dan nelpon istri ‘Ok, ini mungkin pertanyaan tolol, tapi, anggur itu cuman 2 warna kan? ’Atau ke Hero ‘Susu si kecil itu merknya apa ya? Aku berdiri depan lot susu buanyak buanget tapi lupa namanya…’ Atau bergantian ngelonin si kecil di kala dia rewel dan membiarkan istri istirahat. Semua itu adalah peran ibu yang memang baik untuk kita ambil alih sebagai tanda respek kita terhadap istri kita yang telah berperan ganda.

Lagian, malu juga dong masak sih istri bisa kerja, masak, ngasuh anak dan great in bed… tapi kitanya cuman bisa kerja doang? Ya ngga? Apa yang salah kaprah dengan dunia ini? Penyelesaian yang mereka ambil adalah baby sitter. Bego kan? Sering ga sih kita lihat pasangan bawa baby sitter, padahal mereka ga gendong apa-apa? Duh padahal, bayi itu menangis karena dia kangen sama degup jantung ibu di kala dia di dalam kandungan. Itu sebabnya dia diem kalau kita gendong. Eh, ini malah baby sitter yang gendong.

Lapis bawang

Pernikahan itu, seperti yang nenek saya pernah bilang, tidak lebih dari sekedar sebutir bawang (merah, putih, bombay, optional). Katanya, ‘Dit, pernikahan itu tidak lebih dari seperti bawang.’ ‘Sebenarnya tidak ada intinya. Kita hanya menjalani hari demi hari bersama orang yang kita sayangi. Ada kalanya kita menangis sedih. Pedihnya rumah tangga dirasa sama dengan kita mengupas bawang itu lapis demi lapis. Dan ada kalanya kita tertawa bahagia.’ ‘Nek, gimana kok bisa ngupas bawang tuh kok ya sampe ketawa? ‘Oh ya bisa, soalnya abis nangis, ngeliat ke baskom, bawang lain masih banyak.’ Saya ketawa terbahak-bahak hari itu.

Tapi intinya benar. Pernikahan itu seperti mengupas bawang lapis demi lapis. Pedih, dan membuat mata berair. Moral dari cerita nenek saya ini adalah, please make sure when she cries, you are there, crying with her. Feel what she feels and see what she sees. You don’t have to agree, but you do need to understand.


CHAPTER II – On Being a Husband

Okay, perfectly aware of the fact that I’m not married yet, and here we are sitting together, telling you all this. Apologies for that, I just think these kinds of things are good to know. I may not have enough maturity to do it when my time comes. But sure as hell, would like to try them.

Sahabat

Ada satu kunci yang ingin saya sampaikan untuk bisa menjadi suami yang sempurna di mata istri, hanya satu kata. Sahabat. Ada banyak peran yang kita harus bisa mainkan dalam rumah tangga. Sebagai suami karena kita menikahi dia. Sebagai kepala rumah tangga dan sebagai kuli, karena kita tulang punggung keluarga. Ada satu peran yang saya lihat jarang suami atau istri mainkan, yaitu sebagai sahabat.

Kecocokan

Dari pandangan gua nih, orang cerai karena mereka tidak cocok. Kenapa mereka tidak cocok? Karena mereka gagal menjadi sahabat satu sama lain. Ingat juga bahwa temen tidak ada bekas teman, namun istri, ada bekas istri. Iya kan? Merinding bombay ga sih melihat logikanya?

Menyelesaikan masalah

Ketika kita mampu memandang istri kita sebagai sahabat, kita bisa masuk ke dalam berbagai macam lapisan hidup dia. Saya melihat beberapa teman saya yang berhasil dalam hal ini, dan mereka bener-bener berumah tangga dengan baik. Mereka tidak butuh orang penengah jika bertengkar, karena mereka tahu, bahwa sahabat itu, bisa menyelesaikan masalah sendiri dengan baik.

Sahabat can keep secret better. Saya lihat juga bahwa rumah tangga seperti itu, mereka tidak butuh untuk cerita ke orang lain tentang masalah yang mereka miliki. Mereka bisa langsung ngomong ‘Saya ga suka kamu kayak gini.’ Ada lagi yang memiliki tahapan lebih aneh, di mana mereka benar-benar keluar dari box-nya ‘OK, sekarang kamu bukan istri saya, kamu sahabat saya. Saya mau komplen tentang istri saya.’

Berbagi luka

Ini misalnya saja ya. Jika kita suatu hari salah langkah dalam bisnis, kemudian semua tabungan kita 70 juta, amblas habis. Ada suatu sakit tak terhingga di hati kita di sana, pasti. Jika kita hanya mampu memandang istri sebagai istri, kita ga bakal tega bilang ‘Sayang, maaf ya, tabungan kita hilang.’ Potong jari sama saya, kamu setidaknya mikir 5 kali sebelum bilang ke istri. Di sana ada faktor malu karena gagal sebagai suami, gagal sebagai kepala rumah tangga, dan sejuta rasa gagal lainnya yang menumpuk.

Namun, semuanya akan lebih gampang, jika istri kita adalah sahabat kita juga. Jika kita mampu memandang dia sebagai sahabat kita ‘Say, kita kehilangan uang banyak.’ Kenapa ini mungkin? Karena dengan sahabat, kamu tidak perlu ada pride sebagai suami. Kamu bahkan tidak perlu mahar atau apply untuk jadi sahabat. Justru dengan sahabatlah kita bisa sesantai-santainya kita. Yang kamu butuh adalah kecocokan. Menjadi sahabat adalah hal termurah dalam dunia ini. Itulah sebabnya, amat penting bagi kita untuk mampu menganggap istri kita, sebagai sahabat. Of course you can disagree with that.

The comparing game

This is the game we hate the most, yet, the one we play all the time. Common sense can tell us bahwa jangan kita lakukan ini. Di saat kita have a fight. This is what you should avoid. ‘Why can’t you be more like her? Why can’t we be like them? Why can’t… bla bla bla?’ Rest assured there will come a time when we say this to her/him if we don’t grow up enough.

Di kala kita merasa kurang puas dengan dia (dalam hal apa pun), ada baiknya kita mengingat kembali, that we chose to be with her and that when we kissed her forehead setelah ijab kabul, we chose to spend the rest of our life with her, and her only. We chose. We are what we are today, because of the choices we made yesterday. Jadi, jangan pernah sekali-kali membandingkan dia dengan orang lain karena we chose to be with her when we got married. So there is no more need to compare with other people, starting from that point.

The only healthy comparing games adalah seperti ini: ‘Why are we like this today?’ ‘Why can’t we be like we were before?’ Itu lebih sehat, karena kita tidak keluar dari konteks diri kita sendiri. Dan itu pun, sebelum kita melakukannya, kita harus bertanya dahulu ke diri sendiri ‘Apakah saya ada kontribusi terhadap memburuknya keadaan menjadi sekarang?’ Jika ya, berusahalah dulu memperbaiki diri karena mungkin saja kita yang salah, atau setidaknya kita yang salah dalam melihat. Atau malah, istri kita jadi nyebelin karena sebenernya kitanya yang ada salah… She was just reacting towards how we have been acting. Contoh yang jelek tentunya jika membanding-bandingkan dengan kondisi yang dimiliki orang lain atau dengan orang lain itu sendiri.

Mendukung dan mengalah

There is a twisted paradox towards these two things that we need to do in marriage. Terkadang, there’s a clear cut between those two, but sometimes, kita mesti mendukung dengan cara mengalah, dan mengalah dengan cara mendukung. Kasusnya jelas banget. Misalkan suami ada tugas 5 tahun di Singapura, tapi istri juga lagi kencengnya ngembangin bisnis dia yang udah lama dirintis. What would you do? What would you choose? Apakah kita mau, expat sendirian? Apakah dia mau ninggalin impian dia yang udah lama dia rintis, demi nemenin suami 5 tahun doang? Terlebih lagi begini: Siapa yang harus mendukung siapa? Siapa yang harus nurut ke siapa? Siapa yang harus ngalah?

Saya pernah menanyakan hal itu pada pacar saya, dan kita setuju akan penyelesaian di bawah. Saya ga tau kamu, tapi kalo saya jadi suami, saya mending milih pergi sendiri. Why? My wife didn’t go to university to serve me. Yes, I am the most important thing in her world. But remember, I am NOT the ONLY thing in her world. Saya yakin dia punya impian sendiri, ambisi sendiri yang dia ingin capai dan puaskan (see chapter one). As husbands, we need to respect that and support that at any cost.

Further, saya ga mau 30 tahun ke depan, pecahlah sebuah pertengkaran dan salah satu dari kita berkata ‘I gave up MY career for you, for us, what did YOU do?’ ‘I made the sacrifice for us. You are what you are now because I buried myself.’ ‘You had your dream. I can never get mine back.’ Okay, so maybe those examples are very extreme, and unlikely to be heard. But regardless, do we really want to hear that? I don’t.

Ok, mungkin mereka ikhlas… tapi, kita juga harus mendukung dia. Dia harus mendukung kita. Dia adalah separuh nyawa kita, iya benar bahwa kita tidak bisa hidup tanpa dia. Tapi, apakah dia bisa hidup dengan penyesalan? Apakah penyesalan dia, bisa kita, suami, kompensasi? Syukur kalo bisa. Syukur kalo dia kita larang kerja tapi kita bisa provide everything she needs, lahir batin, uang love and respect for her. Kalo ngga? gimana? itu berarti, in a sense, kita minta dia untuk berkorban dua kali. Don’t make her do that.

I don’t know about you, but I don’t want to be with someone yang memiliki penyesalan dalam hidupnya… kita bakalan capek seumur hidup trying to cheer her up and compensate her. Mereka sebagai istri, di kebanyakan kasus ga ambil masalah. Mereka mungkin ikhlas, karena memang basically istri kudu nurut ama suami. But do we really want to do that to her? I sure as hell, don’t. Tapi, inget, bahwa ini juga bisa terjadi kebalikannya.

CHAPTER III – Being a Father

Ok, ini rada berat nih. Saya belum pernah jadi ayah, tapi kamu dan saya, pernah jadi anak, so, bear with me and here we go.

Spend time with them

Saya pernah baca di Intisari edisi psikologi anak, bahwa penelitian memperlihatkan anak-anak yang menghabiskan waktu dengan ayahnya lebih banyak, lebih berprestasi di sekolah, anaknya cenderung lebih pintar. Hal in sangat logis. Bayangin aja. Dia main Lego sendiri. Dia bingung dong mau bikin apa. Tapi kalau kamu mau sediain waktu buat actually asik-asikan ikut main. Dia di usia muda udah bisa membaca pola pikir kamu. Of course kita tidak memaksa dia berpikir rumus regresi linier, itu akan mematikan kreativitas anak. Tapi kita bisa contohkan sedikit agar kreativitas itu tumbuh. Jadilah katalis, bukan fasis.

Di sini ada sesuatu yang simple yang banyak orang lewatkan. Si ibu udah kerja. pulang kerja, masak abis itu ngasuh anak, manage rumah tangga, bla bla bla, capek. Jadinya sesempurnanya ibu, adalah wajar dan bukan salah dia kalo beberapa kali dia kelewat mengajari anak padahal constant teaching and sampling sangat penting di anak balita. Di situlah wajib adanya peran ayah. Ayah menutup lubang-lubang, di mana sang ibu terlalu capek atau tidak memperhatikan. Sehabis makan malam, ya ketimbang gettin’ jiggy with mommy ada baiknya kita ngobrol-ngobrol dengan anak, meski pun obrolan itu ngaco seperti ‘Guru di sekolah kamu bau kelek yah?’ Ok mungkin itu bukan contoh yang baik, tapi you get the point kan? Spend time with them.

Good cop, Bad cop

Misalnya dimarahi ayah atau ibu. Sehabis dimarahi salah satu (ayah atau ibu), yang lainnya sebaiknya datang dan menjelaskan ‘Gini loh nak, maksud si ibu/ayah itu…’ to make sure bahwa they get the point dan mereka sadar bahwa mereka dimarahi karena kita sayang, bukan sumpalan amarah saja. Tapi di sini juga hati-hati karena terkadang jika baru dimarahin banget, sang anak akan capek mendengar hal yang sama meski disampaikan dengan halus, so be careful on this one.

Build their confidence

Sebagai manusia, tonggak momen terpenting dalam sebuah usaha bukanlah di saat kita sukses dan berkata ‘Ya, saya berhasil.’ Yang paling krusial adalah di saat semua masih nol dan berani berkata ‘Ya, saya pasti bisa.’ Tak pelak lagi bahwa kita perlu sekali membangun PD (percaya diri) dalam anak-anak kita agar dia bisa yakin dengan dirinya sendiri bahwa dia bisa survive di dunia ketika dewasa nanti. Membangun ini tidak mudah. Ada paradoksnya:

Pertama, kita harus ada di samping dia di saat-saat sangat muda dan menyemangati dia ‘Ayo ganteng, kamu bisa!’ Dia jatuh ‘Ah ga papa, presiden juga pernah jatuh, ayo coba lagi.’ ‘Ayo sini ayah ajarin manjat pohon, ayah pegangin.’

Kemudian, as time goes by ‘Kamu berani kan manjat pohon sendiri, ayah ga megangin… oh by the way, jambunya dua tolong ya,’ (ok, that’s not a good dad, that’s me).

Kemudian di kala dia dewasa, kita justru yang harus berani melepas mereka sendiri ke dunia. ‘Ayo sana usaha sendiri, be tough kamu pasti bisa.’ Jika dia habis menggambar, meski jelek, tolong dipigura dan dipajang. Itu sudah terbukti, bisa menumbuhkan percaya diri ke dia. Tapi jangan jelek-jelek amat yang dipajang. Kalau dia ga bisa gambar ya jangan dipajang. Kenapa? Takutnya nanti bisa misleading dia. Inti dari memasang gambar itu adalah bahwa kita sebagai orang tua berusaha membuat sang anak merasa ‘Wah, karya gua dianggap penting loh sama ayah… sure dad, I will draw even better than that one.’

Ever walk in a park where there are a lot of kids playing with their parents? I do that almost all the time. The one thing I heard all the time is ‘Mommy mommy look at me,’ when they do something. At hat moment, they need appreciation, they need boosting. They need someone to say ‘There u go, that’s my girl.’ ‘You are so brave.’ ‘Keep at it kid,’ make sure you say that to them, when the time comes. Semua itu adalah proses seumur hidup yang kita bangun ke diri anak kita dari dia mulai bayi sampai pergi ke Copenhagen and get kissed by a Dutch girl.

Comparisons

Tentunya sebagai ayah yang bijak, kamu tahu sendiri bahwa membandingkan anak kita dengan anak lain adalah destruktif. Intinya, memang kita sebaiknya menghindari membandingkan dengan individu lain. Setiap manusia terlahir unik. Tidak ada duanya. Tidak ada kembaran identiknya kecuali dikloning.

Atas dasar itu, kita lebih baik memotivasi dia dengan membandingkan dia dengan dia sendiri. ‘Are you a better person now than you were yesterday?’ ‘Ayo, kemaren kan udah hafal perkalian, berarti sekarang harus bisa pembagian.’ Atau, jika dia IQ-nya 245, ‘Ayo, kemarin kan sudah multiple regression sekarang bisa dong logit biner,’ sorry, that was just a joke.

Inti dari sub-bab ini adalah, compare them with themselves sebelumnya. Tanamkan ke dalam diri mereka (sejalan dengan kedewasaan mereka tentunya) bahwa pribadi yang baik adalah pribadi yang berkembang dan bertambah baik sejalan dengan waktu.

The Peter Pan syndrome

Peter Pan adalah seorang anak yang hidup di Neverland. Di sana dia tidak mengalami proses penuaan. Dia tidak mau turun ke Bumi karena dia tahu bahwa jika dia tinggal di Bumi, dia akan dewasa dan menua. Setiap manusia memiliki sifat ini. Sejalan dengan tumbuh dan dewasanya anak sebaiknya kita kikis sifat ini.

Adalah hal yang penting untuk kita tanamkan ke mereka bahwa hal terbaik untuk mengatasi masalah adalah dengan menghadapinya, meski itu pahit. OK, kita jangan berpikir agunan rumah dulu. Contoh kecil, sehabis puas bermain Lego yang berserakan, kita harus tanamkan ke dia bahwa main Lego bisa seru, tapi afterwards, kita harus membereskannya.

Every action has consequences and we should face it, deal with it, and solve it. Itu yang kita sebaiknya tanamkan ke mereka dari kecil, dengan skala yang sesuai juga tentunya.

Setting example

At the break of a dawn, just before a great battle, a great commander said to his army, ‘What we do in life, echoes in eternity.’ In a way, hal yang sama juga terjadi pada anak kita. The things we do, the words we say and the way that we are, as a father, echoes in their minds, carved in their memories and reflected on their future. Mark those words, they are for real.

Kenapa bisa begitu? Karena bagi kita, orang tua, anak kita memang penting, tapi anak bukanlah satu-satunya hal yg kita urus. Cicilan, kerjaan, istri, rumah, de el and el. Itulah dunia kita. Apa dunia anak-anak kita? Dunia anak kita, hanyalah kita. Their universe, DOES evolve around us, parents. To them we are their everything. We are the first people they learn about life from.

So how do we act as parents? Do we have to be perfect? No. Do we have to tell them things? Not always. What then? We set examples. Be a role model to them. Don’t just tell them to do things, tapi biasakan diri kita untuk melakukannya. “Kamu harus olahraga biar tinggi” (tapi ngomongnya sambil ngerokok). That’s not setting an example. Jangan suruh mereka sholat jika kita sendiri sholatnya suka pas injury time. Jangan ceramahin mereka untuk bersabar jika sekali aja kita disalip bajaj, ngumpat-ngumpatnya 2 malem. Jangan suruh anak makan bayem kalo kita sendiri ga suka sayur. Set example.

To them, we are their everything. They will at first, do the things we do. So, before becoming a father, make sure bahwa kita siap memberi contoh.

Sahabat

Yes, terhadap anak kita, justru kita bagusnya menjadi sahabat selain menjadi ayah. Jangan coba-coba memasukkan logika kita ke pemikiran dia. “Kok kamu maen sapu sih? Ga bener tuh ayo taro sapunya ntar cacingan lagi.’ Percaya atau ngga, itu bahaya. Kita memasukkan logika orang dewasa kita, ke anak umur 4 tahun. They are kids, let them stay as kids. Mereka memang seharusnya menghayal. That’s normal and healthy (defensive banget ya gua?). Bukannya mau ngajarin nih, (gua juga belum punya anak), tapi hal yang tepat menyikapinya adalah ‘kamu lagi ngehayal apa hari ini? kok pake sapu?’ ‘Jadi nenek sihir yah,’ ‘Wah ayah jadi jin kadut deh, bentar ayah make sarung yah.’ Ambil tuh sarung, bikin deh tuh rumah ribut dengan tawa canda kita dan anak kita. Potong jari sama saya, suara mesin Mercedez Class C, kalah indah sama suara tawa itu.

Ada banyak sekali di dunia anak yang kita sudah lupa untuk mengerti sejalan dengan kita makin dewasa. Itu yang bahaya. Jangan kamu buang sifat anak kecilmu itu demi kedewasaan karena kamu akan membutuhkan sifat kekanak-kanakan kamu, untuk berteman dengan anakmu sendiri. Ini adalah yang paling penting dari semua hal yang gua share sekarang.

Jujur, gua pernah bilang ke temen, ‘Gua menolak to grow up more at this point,’ ‘Why?’ ‘Karena gua pengen masih bisa nyambung ngomong sama anak gua nanti.’

THE END

[Phew, that was a bit long. Lots of themes and messages in this guide, despite its abrupt ending. Though, that’s probably why Bayu loves it so much. It ends on his favorite part. But, let’s talk about the themes.

This article assumes its readers have decided to marry or have married. The writer shares his view and experience with his buddies, all married or about to get married. He starts early in addressing the importance of equality in the marital relationship and expands on that theme in various parts of his essay. According to him, marriage does not demand total compromise on the wife’s part. On the contrary, it acknowledges the wife’s dream, ambition, and sense of self-purpose. A healthy relationship occurs when both sides view each other as equal, and communications can go two-way.

Piggy-backing on the equality theme comes the second central theme of sharing. Because both sides are equal, it calls for equal access to and from each side (or, in other words, sharing). Again, the relationship does not demand compromising one’s value over that of his spouse’s, but the act of sharing and understanding the other side is paramount, according to the writer. These, naturally, encompass a whole gamut of aspects in a relationship, including (but not limited to) feelings, experience, household duties, marital commitment, finance, success, failure, opinions, personal and religious values, children care, and familial obligations. Wow, quite a lot, huh, when you think about it.

The third theme is to value the uniqueness of your spouse and your offspring. Despite valuing highly of relationship equality, the relationship itself still consists of unique individuals with their differences. In two instances, the writer points out to never compare your wife and your kid to other people. If you must, compare them within their own context, on their development and previous experience. Comparing them with other people is unfair. Each of us is unique in our way. You choose to be with your spouse, and you are entrusted with the care for your offspring. Take responsibility and do not put yourself out of the picture.

I believe there are more, but I’ll end this up with the fourth theme, that of friendship. In many circumstances, the writer argues that we view ourselves strictly to the role we played as husband and father and fail to consider the role we can play with much more empathy, that as a friend. By assuming the role of a friend, you can communicate better with your wife. You tell stuff to your friend, joke and laugh together, and be there when your friend needs you. Being a friend to your kid allows you to relate better, have more fun, and realize what you would have missed from your life. The point is that by being their friend, you can actualize the equality you value from your marriage and in your family.]

Leave a Reply

Your email address will not be published.